Ya ampun ... kenapa ada postingan marketplace di sini? Nggak salah masuk nih? Ini blog kan tentang game? Lazada? Puyeng nggak tuh kepala begitu baca kata Lazada doank? Hahahah.
Sesuai janji saya di postingan ini, saya akan membagikan tulisan yang selain game. Kalo kalian masih bertanya "KENAPA?" ya... mungkin jawabannya karena pembaca di sini makin jarang, jadi penulisnya bisa nulis apa aja, nobody cares gitu lah ya (apaan sih kok jadi negative vibe?).
Jadi ya udah nih, di bawah pokoknya curhat sekaligus ada beberapa info tentang pengalaman jualan di Lazada. Yang masih minat mah silaken aja terus baca sampe bawah.
Lazada adalah salah satu marketplace atau tempat berbelanja online yang sangat-sangat bersaing di Indonesia. Bahkan nyaingin Tokopedia si Unicorn Indonesia dan Shopee si salah satu marketplace paling sukses di Asia Tenggara.
*bisik-bisik: Tapi sekarang Shopee mulai mangkas pegawainya sih ya, termasuk yang di Indonesia? Biarin lah, yang penting Tokopedia nggak.
Lazada merupakan anak perusahaan dari Alibaba Grup. Pasti tau donk ya Alibaba? Alibaba merupakan perusahaan asal China yang membawahi beberapa perusahaan seperti Taobao, Aliexpress, UC Web, dan masih banyak yang lainnya. UC Web pasti pada tau kan ya? Browser yang sempet terkenal entah di masa Java atau awal-awal kemunculan android (maafkan ya, semoga kalian nggak pikun seperti ini T_T).
Itu lah kenapa Lazada bisa berkembang pesat di Indonesia. Di bawah naungan Alibaba grup, mereka betul-betul membakar duit demi bisa menyaingi marketplace terkenal lainnya di Indonesia. Meskipun jika dilihat kelengkapan fiturnya, Lazada ini awalnya di belakang Tokopedia dan Shopee. Tapi Lazada terus mengejar dan akhirnya bisa menyeimbangkan posisinya dan terus eksis hingga sekarang.
Sebagai pengguna seller.center.lazada sejak tahun 2018, saya melihat sebuah celah atau bug mengenai fitur halaman penjual lazada. Yaitu bebas memasukkan resi dari daerah manapun. Misal pengiriman ke dari Jakarta ke Jakarta tapi diisi Jakarta ke Papua. Yang mengakibatkan Lazada harus 'mencairkan' dana ongkir yang berlebih kepada seller.
Kelemahan inilah yang membuat seller nakal untuk terus memberikan resi 'palsu' pada setiap pengiriman di tokonya. Kenapa saya tau? Karena teman saya juga yang melakukan hal ini hahaha.
Kemungkinan hal ini lah yang menjadi salah satu sebab Lazada memberikan aturan untuk membuat resi tetap yang berdasarkan sistem, atau yang dinamakan Cashless. Jadi dana ongkir yang sudah dibayarkan customer terhadap marketplace, langsung diteruskan kepada pihak pengiriman (jika barang yang dibeli betulan sampai diterima customer). Jadi dana ongkir ini nggak cair ke seller.
BTW, bagaimana nasib teman saya yang waktu itu 'mainan' resi? Setelah resi berganti menjadi 'tetap' berdasar sistem, dia tidak kelihatan main di Lazada lagi.
Sebenernya peraturan cashless ini sudah tepat guna banget untuk menghindari penyalahgunaan fitur. Tapi buat dropshipper baik-baik yang ngandelin isi resi dari pembelian di marketplace lain gimana coba? Serasa kayak 'diCUT' nggak bisa jualan lagi di sini. Huhu
Rasanya fitur COD di Lazada ini memang yang menjadi salah satu ujung tombak jualan Lazada. Terbukti dari banyaknya customer Lazada, beberapa dari mereka sebetulnya bukan dari kalangan yang buta-buta banget sama marketplace selain Lazada. Mereka memilih beli di Lazada karena fitur CODnya.
Dari awal saya mengira bahwa customer Lazada ini adalah orang-orang yang tidak mengerti dengan marketplace lain seperti Tokopedia, Bukalapak dan kawan-kawan yang notabene mempunyai rate harga item yang lebih murah dari Lazada. Tapi ternyata dugaan ini salah gaes. Beberapa dari mereka paham betul ada marketplace lain. Tapi pada waktu kemunculan fitur COD di Lazada, marketplace kompetitornya belum ada yang memakai fitur ini.
Fitur COD ini sangat bermanfaat untuk customer yang tinggal di pelosok desa dan belum terjamah Bank serta minimarket yang memberikan pelayanan pembayaran pembelian di marketplace. Jadi dengan begitu bisa menambah keuntungan seller. Dengan fitur COD di Lazada ini, penjualannya bisa di atas toko lainnya yang hanya mengandalkan pesanan yang harus transfer telebih dahulu.
Di atas sudah dijelaskan keuntungan fitur COD bagi pembeli dan penjual di Lazada. Sekarang giliran di di sini saya ngejabarin paitnya ya gaes.
- Rentan Kepencet Beli
Karena langkah menggunakan pembayaran COD tidak seribet menggunakan pembayaran transfer, customer sering banget kepencet beli. Kalau kepencet belinya dua kali di toko yang sama (yang menghasilkan 2 orderan dengan 2 nomer pesanan yang berbeda) sih nggak apa-apa. Tapi kalau kepencet beli di toko lain?
Saya sempat ngerasain ini. Jadi seorang ibu-ibu mengatakan bahwa dirinya salah pencet membuat 2 pesanan di 2 toko yang berbeda. Jadi toko yang paling cepat dalam packing dan mengantar ke pengirimanlah yang memenangkan orderan dari ibu ini.
Kalau ente dropshipper atau reseller pemula yang membeli barang setelah ada penjualan di toko (online), mampuslah itu barang balik lagi ke alamat kalian hahaha hiks. - Rawan Diisengi Pembeli yang Tidak Bertanggungjawab
Cerita ini dari seorang teman. Jadi berawal si teman sebegai seller Lazada meminta customer untuk membatalkan pesanan (karena kalau dibatalin sendiri kan toko bakal dapet poin pelanggaran ya, di marketplace lain pun juga begitu). Tapi si customer ini jengkel gaes. Dia ngebikin 12 pesanan lagi menggunakan metode pembayaran COD.
Nah gimana tuh endingnya? Jelas temen yang kelimpungan mintain batalin pesenan lagi donk ya ke customer. Lupa gimana endingnya. Yang jelas itu merugikan toko banget.
Seandainya ya metode pembayaran COD nggak ada, kira-kira orang berani nggak ya nyepam orderan 12 kali ke toko? Mengingat kalau tidak menggunakan metode COD, artinya customer harus menggunakan metode pembayaran yang pasti (transfer atau paylater). Kalau nyepam orderan menggunakan paylater atau kredit, walaupun prosesnya yang mungkin tidak selama pembayaran transfer, customer pasti tetap rugi karena akan membayar tagihan di belakang. - Rawan Penolakan
Ini hubungan dari rentan kepencet beli di atas. Karena pembeli bisa beli sesuka hatinya tanpa pikir panjang, jadi menolak pesanan pun juga sesuka hatinya. Bukan bermaksud merendahkan, tapi memang kebanyakan yang jelas-jelas menolak itu karena uang cash mereka tidak cukup.
Saya sangat bersyukur, bahwa penolakan dari customer tidak dikenakan poin untuk toko. Tapi toko jadi cukup rugi. Rugi selotip, packing bubble, kardus (packing kardus itu nggak sebentar loh ya), dan waktu 'on the way paket' yang sudah berjalan ke rumah customer.
Masih lumayan kalau paket 'berangkat-pulang' ke rumah customer yang masih 1 pulau dengan alamat toko penjual, jadi paket ini tidak begitu lama di jalan. Tapi beda cerita kalau rumah customer berada di pulau yang berbeda.
Mungkin jika kamu belum pernah menjual barang di marketplace, jarak itu bukanlah masalah. saya akan coba tuliskan perbandingannya:
1. Pengiriman barang dari toko Jakarta ke alamat customer tujuan Jakarta, lama 'berangkat-pulang' paket 2-4 hari.
2. Pengiriman dari Jakarta ke alamat tujuan Digoel Papua, lama 'berangkat-pulang' paket hampir 2 minggu sampai 1 bulan
Ketika ada pembeli lain yang membeli barang di atas, paket yang 'telah ditolak' dari Jakarta bisa dikirim lebih cepat daripada paket yang masih on the way dari Digoel.
Demikian seller bisa mendapatkan uang dari pembelian barang tersebut juga lebih cepat. Dan uang ini tentunya digunakan entah untuk ke bagian produksi, membeli barang ke supplier, atau untuk menggaji pegawai. - Rawan tidak Diantar Kurir
Kadang gini gaes, kalau kurir mendapati satu alamat tidak menerima peket COD, besok dan seterusnya kurir berpeluang untuk tidak akan mengantar paket lagi ke alamat tersebut. Mungkin entah malu atau kesal.
Ya bayangin aja udah jauh-jauh nganter paket, bukannya dibayar malah ditolak. Kepikiran ga sih di benak kalian, kalau kurir mungkin merasa seperti dept collector dan malu sama tetangga-tetangga customer-penolak-COD?
Kalau kesel sih udah pasti sih. Karena kalau paket ditolak itu, biasanya kurir wajib mengirim paket 1-2x lagi ke rumah customer. Bayangin deh malu/kesel/malesnya si Pak Kurir. - Paket Dibatalkan Sepihak oleh Kurir
Sebabnya bisa di atas, tapi bisa juga waktu customer tidak ada di rumahnya. Kita kan nggak bisa memperkirakan kurir bakal dateng jam berapa. Misal biasanya dateng sebelum maghrib, tapi tau-tau dateng pagi kan bisa aja?
Bandingkan situasinya dengan dimisalkan customer membeli menggunakan metode pembayaran transfer, pasti paket sudah langsung ditaruh di semak-semak terdekat rumah customer/bawah keset/dibalik pot/dititipkan ke tetangga. Dengan kata lain nggak ada masalah sih mau ditaruh mana, yang penting kalau sudah bayar pasti barang itu sebisa mungkin disampaikan oleh kurir ke alamat customer. Pasti sampai. Jika alamat salah pasti kurir akan mengejar customer melalui nomer telpon yang ditulis pada pesanan.
Ada juga kasus pembeli yang tinggal di pedalaman yang ponselnya jarang mendapatkan sinyal. Ketika kurir menelpon, customer tidak bisa dihubungi. Jadi ya wassalam deh paketnya balik ke seller. - Paket Kembali dengan Keadaan Jelek
Ini berhubungan dengan paket-paket yang ditolak atau tidak sampai ke tangan customer ya gaes.
Kamu harus tau ya, para penolak paket COD! Kalau kondisi/penampilan paket yang kembali itu belum tentu masih bagus. Biasanya saya mendapati paket yang kembali sudah dalam keadaan lusuh, kardusnya peot, bahkan sudah compang-camping.
Pernah juga kondisi sudah disilet dan diambil isinya, tapi tidak tau yang melakukan customer atau kurir, tapi beruntung yang isinya diambil itu bukan barang yang berharga mahal.
Apakah sistem poin di lazada termasuk yang terkejam di antara semua marketplace yang ada di Indonesia? Jujur saya tidak bisa menjawabnya. Yang jelas, di tahun 2018 itu, ada pembasmian dropshipper besar-besaran yang mengakibatkan toko saya dan teman-teman kena dampaknya. Gimana nggak dibanned? 1 toko upload puluhan ribu produk. Dan 1 orang membuat lebih dari 1 toko. Jelas menuh-menuhin database Lazada lah.
Kebetulan sebenernya saya pernah cobain skincare asal luar negeri ini, dan saya menjual barang tersebut tidak yang di bawah harga pasaran. Malah saya naikin harganya, supaya harga pasaran di Lazada tetap aman stabil tanpa saing-saingan harga. Tapi tetep aja yah, namanya orang nggak suka, tanpa pandang bulu tetap 'dibabat habis'.
Untuk yang kepngin tahu, saya pernah menjual produk herbal termasuk obat-obatan yang sekiranya di apotik tidak ada. Tapi ini legal ya, dan bukan obat-obatan terlarang. Dan juga alat kesehatan yang bukan berupa obat seperti celana laki-laki dan suplemen kehamilan.
Tapi sama Lazada dibabat habis (emot ketawa mana ya?). Dan tak lupa toko saya dibanned.
Ini sama halnya seperti kita minta kirim barang di toko yang rame menggunakan resi Pos Indonesia. Berpeluang nggak dikirim-kirim, karena Pos Indonesia nggak ada fasilitas pickup. Dan juga jam pengiriman cuma sampai jam 5 sore. Jadi sabar aja kalau kalian beli barang yang pengirimannya pake Pos Indonesia, terus rayu tokonya supaya mau kirim. Semangat!


0 Komentar